Text
Kembali Menjadi Manusia
Agama Islam dibawa ke Nusantara oleh Walisongo lewat jalan cinta dan kasih sayang. Sebagaimana saat Rasulullah Saw pertama kali menyampaikan agama ini ke orang-orang di sekitarnya, Walisongo ketika itu juga menjadi "satu-satunya" yang tidak tersesat.
Delapan abad lamanya agama Islam sudah ada di Nusantara, namun belum satu pun pribumi memeluknya. Yang memeluk Islam hanya "orang luar" yang tinggal di Nusantara. Sepintas mengherankan; bagaimana mungkin selama delapan abad agama Islam belum bisa diterima pribumi? Selama kurun waktu kurang dari 50 tahun, kehadiran Walisongo justru mampu mengislamkan banyak sekali pribumi. Jawabannya karena gaya dakwah Walisongo meniru cara dakwah Nabi Muhammad Saw yang lembut dan tanpa paksaan.
Islam sebagai agama rahmatan lil 'alamin mengajarkan kita untuk memanusiakan manusia, tidak peduli dari mana dia berasal atau tuhan apa yang dia sembah. Namun dewasa ini, sikap memanusiakan manusia seakan dibatasi hanya untuk "kalangan sendiri" saja. Ini terjadi karena kedangkalan cara berpikir sebagian umat Islam yang pola berpikirnya melenceng dari yang diteladankan Rasulullah Saw dan Walisongo.
Buku ini menyoroti sekian fenomena tentang umat Islam yang suka "merasa benar", gemar memvonis, juga cenderung tidak sadar untuk memperbaiki diri sendiri ketimbang mengoreksi orang lain. Tema-tema menarik mulai dari masuknya Islam ke Nusantara, bagaimana memperlakukan manusia beda keyakinan, isu poligami, menyikapi perbedaan ideologi dalam tubuh Islam, memandang bencana alam sebagai bentuk kasih sayang-Nya, menggapai pahala dengan cara sederhana, dan lain-lain, dikemas dengan gaya tulisan ringan ala Doni Febriando yang membumi sehingga bisa dibaca siapa saja, terutama kalangan muslim pinggiran yang awam.
Tidak tersedia versi lain