Text
Sandiwara Kemerdekaan : Sekumpulan Cerpen
Cerpen Burung Sangkar Langit sangat menyentuh rasa kemanusiaan kita. Pengarang merajut cerpen yang menarik meski persoalan yang ditampilkan sepele: raibnya burung tekukur.
Pamusuk Eneste, penyunting sastra.
Membaca cerpen ini seperti menonton sebuah film. Deskripsinya adalah shot-shot puitis yang membuat rasa ingin tahu pembacanya. Cerpen Monumen Jenderal Kadir dan Burung Sangkar Langit, misalnya, betapa terasa dramatic value tokoh-tokohnya; jenderal Kadir yang tersingkir, letnan Fian yang gamang serta sersan Sisam yang sok jadi pengusaha. Atau si Awang yang ditinggal burung tekukurnya yang bernama Bilal, yang semenit sebelum azan Subuh selalu berbunyi merdu membangunkan dia. Betapa piawainya Aant menunda informasi tentang proses sebenarnya si Bilal lepas dari sangkarnya. Kata isterinya atas permintaan cucunya, si Mala. Dan itu menebalkan garapan Awang untuk bisa menemukan kembali burungnya. Baru kemudian lewat istri Awang, Aant memberitahu kita bahwa sebenarnya burung itu sudah mati diterkam kucing. Trenyuh.
Imam Tantowi, sutradara.
Karya sasta umumnya atau cerpen realis khususnya, jika tidak terampil dalam penggarapan sangat mungkin jatuh ke membosankan, sebab sehari-hari kita berhadapan dengan realita, bahkan mungkin lebih dahsyat dibanding yang disajikan pengarang, Karena itu mesti ada sublimasi, haris ada ada bentuk ucap yang khas dan unik. Saya melihat syarat-syarat itu disadari betul oleh Aant. Pada cerpennya tentang lelak bernama Begok ataupun masakan brongkos, misalnya, kita mendapatkan banyak kejutan. Begitupun dalam cerpen Sandirwara Kemerdekaan Aant berhasil menampilkan realitas kemerdekaan secara unik, cernih, memikat.
Tidak tersedia versi lain